Selamat Datang di Situs Resmi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan - Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Sumatera Barat
EKSISTENSI GURU PAI DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI SUMATERA BARAT PDF Cetak Email
Ditulis oleh Prof. Dr. Zulmuqim, MA   
Minggu, 10 Juni 2012 00:11

 

A.    Pendahuluan

Menjadi guru, pada dasarnya, bukanlah hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi guru bertanggung jawab atas perubahan prilaku peserta didik sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam proses mengajar, guru atau pendidik harus  membimbing peserta didik agar potensi mereka berkembang, melatih keterampilan baik keterampilan intelektual maupun keterampilan motorik sehingga peserta didik dapat berani hidup dalam masyarakat yang cepat berubah dan penuh persaingan. Guru juga harus memotivasi peserta didik agar dapat memecahkan berbagai persoalan hidup dalam masyarakat yang penuh tantangan dan rintangan, dan membentuk peserta didik agar memiliki kemampuan inovatif dan kreatif (Wina Sanjaya, 2006 : 14).

Dalam perjalanan sejarah, pendidik  di Suamatera Barat (Minangkabau) pada awal abad ke 20, yang terkenal dengan sebutan Tuan Guru, Buya, Taungku, Syekh, dan Inyiak telah berhasil mendidik dan membina murid-muridnya menjadi orang-orang cerdas, berakhlak, dan berkarakter. Mereka terkenal bukan saja untuk tingkat Sumatera Barat (Minangkabau), tetapi sampai pada tingkat nasional, dan bahkan tingkat internasional. Kita mengenal, Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah (Inyiak Rasul), Inyiak Candung, Inyik Parabek, Haji Agus salaim, Mahmud Yunus, Hamka, M. Natsir, dan lainnya. Kemampuan pendidik  pada waktu itu telah mendidik anak kemenakan mereka dengan memasukan nilai-nilai (spirit) yang terdapat dalam falsafah adat, yakni: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS-SBK).

Fenomena yang berkembang akhir-akhir ini bahwa profesi  guru (termasuk guru Pendidikan Agama Islam), baik pada tingkat nasional maupun lokal (Sumatera Barat) sering mendapat sorotan yang tajam. Di antara masalah yang muncul adalah rendahnya mutu dan kualitas sumberdaya manusia yang dihasilkan selama ini dan akhlak peserta didik yang masih jauh dari yang  diharapkan. Dr. Arif Rahman, sebagaimana dikutip Armai Arif (2005 : 8) mengatakan bahwa titik lemahnya pendidikan di Indonesia, termasuk Sumatera Barat, disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya adalah 1) titik berat pendidikan selama ini hanya pada aspek kognitif, 2) pola evaluasi selama ini  meninggalkan pola pikir kreatif, imajinatif, dan inovatif,  3) kurangnya pembinaan minat belajar pada peserta didik karena pengertian “pendidikan” berubah menjadi “pengajaran”.

Rendahnya mutu pendidikan tersebut, pada dasarnya, disebabkan oleh banyak faktor. Namun, faktor kemampuan  pendidik (guru) merupakan faktor kunci untuk mendapatkan keberhasilan, sebab sabda  Nabi mengatakan: Bila suatu pekerjaan dibrikan kepada yang bukan ahlinya (tidak professional)  maka tunggulah kehancuran (al-hadis).

 

B.     Permasalahan Guru Pendidikan Agama Islam Saat ini

Bila dicermati secara seksama permasalahan PAI pada lingkungan sekolah/madrasah saat ini masih menyisakan sejumlah persoalan yang patut menjadi perhatian serius dari semua pihak. Di antara permasalahan tersebut adalah seperti yang dikemukakan Muchtar Bukhori (1992). Menurutnya, kegagalan PAI ini disebabkan karena praktik pendidikan hanya memperhatikan aspek kognitif semata dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatif-volutif, yakni kemauan dan tekat untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. Akibatnya terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi, selama ini guru PAI lebih banyak bersikap menyendiri, kurang berintegrasi dengan kegiatan-kegiatan lainnya.

Dalam pandangan  Kamaruddin Hidayat, sebagaimana dikutip Muhaimin (2005 : 23), pengajaran PAI selama ini lebih berorientasi pada belajar tentang agama, sehingga hasilnya banyak peserta didik yang mengetahui nilai-nilai ajaran agama, tetapi prilakunya tidak relevan dengan pengetahuannya. Di sisi lain, Mukhtar (2003 : 88), Mantan Rektor IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi mengatakan bahwa  di antara problema PAI saat ini adalah:

                     1.            Kurangnya sikap professional guru PAI, yang ditandai dengan kurangnya kemampuan dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada peserta didik. Ini terlihat dari kurangnya kemampuan membuat persiapan, menguasai  bahan pelajaran, memilih metode, menggunakan media, dan melakukan pengelolaan kelas.

                     2.            Kurangnya pengakuan masyarakat terhadap guru PAI. Hal ini ditandai dengan kurangnya penghargaan atas kegiatan pendidikan yang dilakukan guru terhadap peserta didik di sekolah. Sebagai akibatnya ada perasaan rendah diri (minder) bagi guru agama bila berhadapan dengan guru bidang studi lain.

Berbagai persoalan PAI tersebut, menurut Ahmat tafsir, sebagaimana dikutip Muhaimin (2005 : 28), tidak bisa dilepaskan dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Menurutnya, ada empat  hal yang menyebabkan timbulnya permasalahan PAI, yakni:

                     1.       Kesulitan dari bidang studi PAI itu sendiri. Bidang studi ini  banyak menyentuh aspek-aspek metafisika (ghaib) yang bersifat abstrak atau bahkan menyangkut hal-hal yang yang bersifat supra rasional, meskipun ada juga yang menyentuh hal-hal yang rasional.

                     2.       Kesulitan yang datang dari guru PAI sendiri, yakni kurangnya kemampuan professional dalam mendidik.

                     3.       Orang tua kurang memperhatikan pendidikan agama yang diperoleh anak di sekolah.

                     4.       Orientasi kehidupan semakin matrealistis, individualistis, dan pragmatis,  sebagai akibatnya standar keberhasilan seseorang hanya diukur dengan benda, pangkat, dan jabatan.

Bila dicermati berbagai persoalan PAI, sebagaimana diungkap di atas,  agaknya titik lemah PAI lebih banyak terletak pada komponen guru (pendidik). Kelemahan tersebut dapat terlihat pada  penyajian materi. Guru PAI  kurang bisa mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi  “bermakna” dan “bernilai”, atau kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik. Di samping itu, guru PAI juga tidak bisa memahami peserta didik dari aspek perkembangnnya, kurang dapat bekerja sama dengan program-program pendidikan non-PAI, dan kurang mengkaitkan materi PAI dengan kehidupan sosial yang terjadi di masyarakat, sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai kehidupan keseharian.

C.    Menjadikan Guru PAI Profesional

1.      Tanggung Jawab Guru  PAI 

Guru merupakan pendidik profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (UU No. 20/2003, Ps. 39, ayat 2)

Berdasarkan undang-undang  di atas dapat dipahami bahwa tugas  guru PAI bukan hanya mengajar saja, tetapi lebih jauh dari itu, yakni mulai dari merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, sampai kepada mengevaluasi hasil pembelajaran.

Dalam  Undang-Undang Guru dan Dosen juga secara tegas dikatakan bahwa Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU No. 14 Th. 2005, ps 1).

Oleh karenanya, mengajar PAI bukanlah hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik, tetapi mendidik,  membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan melakukan evaluasi. Mengajar adalah pekerjaan yang mempunyai tujuan yang jelas, yakni pembentukan kepribadian, karakter, watak peserta didik. Dalam pelaksanaannya diperlukan sejumlah keterampilan khusus yang didasarkan pada konsep dan ilmu pengetahuan yang spesifik, yang hanya bisa dilakukan hanya oleh tenaga profesional.  Oleh karena itu, menjadi guru tidak hanya cukup memahami materi yang akan diajarkan saja, akan tetapi memerlukan pengetahuan lain yang menunjang, misalnya pengetahuan tentang psikologi (psikologi umum, psikologi perkembangan, dan psikologi belajar), teori tentang perubahan tingkah laku, kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar, kemampuan mendesain strategi pembelajaran, dan kemampaun lainnya.

Di samping itu, pekerjaan guru PAI bukanlah pekerjaan yang statis, tetapi adalah pekerjaan yang dinamis, yang senantiasa berkembang, karena yang dihadapi adalah manusia dan pengetahuan yang senantiasa berkembang. Oleh karena itu, guru dituntut peka terhadap dinamika perkembangan masyarakat, baik perkembangan kebutuhan yang senantiasa berubah, perkembangan social, budaya, politik, dan teknologi. Untuk itu, guru harus berangkat dari orang yang berbakat, punya minat, panggilan njiwa, dan idealisme, serta memiliki komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan. Dari itu, guru tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab professional dalam proses pendidikan.

 

2.      Mengoptimalkan Eksistensi Guru PAI

Dalam proses pendidikan guru PAI mempunyai eksistensi dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Minat, bakat, kemampuan, dan berbagai potensi yang dimiliki peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Untuk itu, guru PAI harus memperhatikan peserta didik secara individual, karena antara sesama peserta didik memiliki perbedaan yang sangat mendasar, baik dari segi bakat, minat, dan kecerdasan, maupun dari segi latar belakang pendidikan orang tua, sosial ekonomi, dan kebiasasan di rumah, karena semuanya itu  akan mempengaruhi peserta didik.  Oleh karena itu, guru PAI mempunyai eksistensi yang tidak bisa digantikan, meskipun kemajuan teknologi berkembang dengan hebat.

Dalam proses pembelajaran, pendidik/guru, menurut Wina Sanjaya (2006 : 20-31)  berperan sebagai sumber belajar, fasilitator, administrator (pengelola), demonstrator, pembimbing, motivator,  evaluator. Sementara itu, E. Mulyasa (2007 : 36-64) mengatakan bahwa guru mempunyai peran yang banyak sekali, baik peran itu berhubungan secara langsung dengan proses pembelajaran maupun tidak. Menurutnya, guru berperan sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasihat, pembaharu (innovator), model teladan, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pembawa cerita, aktor, emansipator, dan evaluator

Al-Ghazali mengatakan bahwa pendidik (guru) harus memiliki kepribadian yang baik, yakni:

1.    Memandang peserta didik seperti anaknya sendiri dalam kasih sayang dan perhatian

2.    Menjalankan tugasnya harus didasarkan dengan ikhlas kepada Allah Swt

3.    Bersifat sabar dalam menghadapi peserta didik

4.    Tidak boleh menyombongkan diri terhadap ilmu yang dimilikinya

5.    Perlu memperhatikan perkembangan dan perbedaan peserta didik secara menyeluruh

Dalam konteks Sumatra Barat, yang masyarakatnya terkenal dengan kuat  agamanya dan kental adatnya. Ini  tercermin dalam pepatah adat yang mengatakan “Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah”(ABS-SBK). Antara agama dan adat di Sumatera Barat (Minangkabau) menyatu dan bahkan saling mengisi, bagaikan aur dengan tebing. Hal ini terlihat pula dalam pepatah adat yang berbunyi “Syara’ mangato, Adat mamakai”.  Artinya, konsep dan aturan-aturan agama dilaksanakan oleh aturan-aturan adat dalam kehidupan berkorong, berkampung, dan bermasyarakat. Dalam hal ini, seorang guru PAI, di samping mempunyai kompetensi sebagaimana tercantum dalam UU No.14/2005, ps.10  tentang UUGuru & Dosen dan PP.19/2005, ps.28 tentang Standar Nasional  Pendidikan, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Sedangkan dalam Permenag Nomor 16/2010 pasal16 ditambah satu kompetensi lagi yaitu kompetensi kepemimpinan. Namun, untuk keberhasilan guru di Sumatera Barat aganya perlu juga juga dilengkapi dengan dengan kompetensi kearifan lokal yang sesuai dengan adat Minangkabau. Artinya, guru PAI hendaknya dapat menggunakan pendekatan adat dalam proses pembelajaran PAI.

Dalam konsep Islam, guru (pendidik) berasal dari kata Murabbi, Muallim, dan Muaddib, yakni sebuah profesi yang sangat mulia. Semua aktivitas guru merupakan ibadah yang tinggi nilainya di sisi Allah, karena di samping berilmu pengetahuan guru juga mencerdaskan orang.  Allah meninggikan derjatnya orang beriman dan orang yang berlmu pengetahuan (Q.S. al-Mujadalah/58 : 11). Karena di tangan gurulah seseorang menjadi pintar. Dari  tangan gurulah awalnya berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi.  Dan dari tangan guru jugalah   majunya sebuah Negara. Untuk itu, guru dalam melaksanakan tugasnya harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh (Profesional), yang didasarkan atas keimanan dan keikhlasan. 

 

3.       Usaha Pengembangan Profesi Keguruan

Agar senantiasa kemampuan seorang guru sebagai tenaga professional dapat berkembang dan semakin mantap, maka  perlu ada usaha-usaha yang perlu dilakukan. Di antaranya:

a.         Guru PAI perlu banyak-banyak  belajar baik di rumah maupun juga di perpustakaan  dengan cara membaca buku-2 agama, al-Qur’an, Hadis, koran, majalah, internet. Dalam al-Qur’an, Allah mengingatkan  manusia agar senantiasa banyak membaca. Dengan membaca itu, ilmu pengathuan dan teknologi akan berkembang dan maju.  Membaca (qara’, iqra’) dalam al-Qur’an terdapat sekitar  86 kali dalam segala bentuk

b.         Guru PAI hendaknya memanfaatkan wadah perkumpulan guru mata pelajaran seperti MGMP, KKG dengan melakukan diskusi dan seminar. Dalam al-Qur’an, Allah mengingatkan agar manusia sering-sering bertanya agar mendapatkan ilmu pengetahuan. Bertanya (sa’ala, fas’al) dalam al-Qur’an ada sekitar 128 kali dalam segala bentuk

c.         Belajar secara formal pada jenjang pendidikan S.2 dan S.3

d.        Mengikuti pertemuan organisasi profesi pendidikan (PGRI, ISPI, dll)

e.         Ikut Mengambil bagian dalam kompetisi ilmiah

f.          Melakukan penelitian tindakan kelas (PTK)

g.         Menulis karya ilmiah berupa buku, makalah, dan jurnal

h.         Dll

 

D.    Penutup

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk optimalisasi peran guru Pendidikan Agama Islam di Sumatera Barat memerlukan kerja keras, baik dalam meningkatkan kemampuannya maupun dalam mengembangkan profesinya. Dengan menggunakan pendekatan kearifan lokal (Adat Minangkabau) dalam proses pembelajaran PAI, maka mau tak mau guru perlu memahami nilai-nilai adat itu sendiri, di samping menguasai  materi keagamaan secara dalam dan keterampilan dalam mengajar.

Wallahu A’lam Bissawab.

Wassalam

 


 

KEPUSTAKAAN

 

Abdu al-Rahman al-Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asaalibuha; Fi al-Bayti wa al-Madrasah wa al-Mujtama’ (Damsyik : Daru al-Fikri, 1979)

Ali Khalil Abu bAinain, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah Fi al-Qur’an (Kairo, Mesir : Daru al- Fikri al-Ghazali, 1980)

Arif Rahman, Bangkitkan Pendidikan Sumatera Barat dengan Budaya Adat Minangkabau Guna Mewujudkan Generasi yang Cerdas Berwatak (Padang : Makalah, tanggal 25 September 2009).

Armai Arief, Reformulasi Pendidikan Islam (Jakarta :CRSD Press, 2005)

E.Mulyasa, Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2007)

Hasbullah, Otonomi Pendidikan: Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan (Jakarta : Raja Grafindo  Persada, 2006)

James M. Cooper (ed.), Clasroom Teaching  Skill (Lexiangtong, Massachusetts Toronto :  D.C. Heath Company, 1990)

Made Pidarta, Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia (Jakarta : Rineka Cipta, 1997)

Mukhtar, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta : Misaka Galiza, 2003

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005)

Oemar Hamlik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta : Bumi Aksara, 1999)

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005, Tentang Standar Nasional Pendidikan (Jakarta : Sinar Grafika, 2005)

S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar (Jakarta : Bumi Aksara, 2000)

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta : Sinar Grafika, 2003)

Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005, Tentang Guru dan Dosen (Jakarta : Raja Grafindo  Persada, 2006)

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta : Kencana Prenada Media, 2006)


 

 
Iklan

Asmaul Husna

Jadwal Ibadah